Jumat, 07 Desember 2007

Mantera Sang Nenek



Susi sangat sayang kepada neneknya. Setiap hari nenek duduk merajut didekat perapian. Kadang-kadang dia merajut begitu cepat sehingga jarum rajutnya menjadi hangat.

“Kamu tahu, nenekmu ini seorang penyihir, lo!” Kata nenek kepada Susi. Susi selalu tertawa setiap mendengar ucapan neneknya itu. Wajah nenek selalu penuh senyum, sorot matanya juga ramah. Nenek tidak tampak seperti penyihir, pikir Susi. Ia sudah pernah mengintip lemari pakaian neneknya, mencari topi penyihir atau tongkat sapu. Namun dia tak pernah menemukan satu pun. “Aku tak percaya nenek seorang penyihir” kata Susi.

“Betul, nenek tidak bohong!” Ungkap nenek, “Dan suatu hari, nenek akan membaca mantera, sehingga jarum nenek bisa merajut sendiri,” tambahnya. Susi mengawasi dengan teliti jarum jarum neneknya. Jarum-jarum itu tetap tergeletak diam didalam keranjang.

Suatu hari, Susi bermain di halaman rumahnya. Ia mendengar seseorang menangis. Suara itu datang dari sebatang pohon tua. Susi berjalan melalui pohon itu, namun dia tak melihat seorang pun.

Susi lalu menunduk. Didekat kakinya dia melihat makhluk kecil sekali, berpakaian rapi, mengenakan jaket sepinggang warna kuning. Sepatunya bagus mengkilap, topinya lancip. Ketika makhluk kecil itu melihat Susi, dia berhenti menangis dan mengusap matanya dengan sapu tangan berenda.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Susi tanpa merasa takut.

“Oh…kasihanilah aku!” ratab makhluk kecil itu, “Aku ini peri penjahit milik seorang putri. Dia menyuruhku membuatkan gaun cantik untuk pesta dinegri malam ini. Tapi ada peri nakal yang menyulap kain sutera tipisku yang sangat bagus. Kain itu menjadi sayap kelelawar. Aku jadi tidak bisa membuat gaun sang putri. Putri pasti marah padaku.” Lalu peri penjahit itu mulai menangis lagi.

“Jangan menangis!” Kata Susi. “Aku bisa menolongmu. Nenekku memiliki tumpuan barang sisa. Kamu tidak butuh banyakkan? Tunggu di sini ya aku ambilkan di rumah!” Susi berlari melintasi halaman dan masuk lawat pintu belakang.

“Nek,nenek!” Panggil Susi. Di dekat perapian tampak nenek duduk dengan mata tertutup. Namun bibirnya bergerak seperti berbisik pada dirinya sendiri. Jarum-jarum rajutan di pangkuannya bergerak sendiri. Benang rajutan naik turun diatas lutut tuanya.

Untuk sekejap,Susi terkejut.” Aku harap,nenek tidak membaca mantera yang jelek”, pikirnya

Susi lalu berlari kembali untuk

Menemui si peri penjahit. Peri itu sedang duduk di tengah tumpukan sutera tipis yang halus indah.

Dari mana bahan yang bagus ini datang?

Tidak ada komentar: